Langsung ke konten utama

The Dream Sunset



The dream sunset

Suatu pagi dihari senin, aku memulai hariku di pagi hari dengan senang hati bersama orang tua. Tentu saja di pagi hari di dalam kamar, aku terbangun dari tidur dan memulai saat teduh sendiri di atas tempat tidurku. Beberapa menit berlalu, aku bergegas mandi dan bersiap untuk pergi kesekolah. Namun pada saat perjalanan kesekolah, tak kusangka ada orang yang membuatku merasa marah dan jengkel. Pasti kalian bertanya apa yang terjadi kenapa aku merasa marah dan jengkel. Jadi saat aku mengendarai motor menuju kesekolah, ada saja pengendara mobil yang melaju lumayan kencang dan menyenggol samping motorku hingga hamper jatuh. Aku tak tinggal diam, bergegas aku mengejar dan mengajaknya bertengkar. Namun tidak pernah di duga, pengendara mobil itu sedang membawa orang yang sedang sakit dan harus segera dibawa kerumah sakit. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan, tetapi karena aku merasa tidak enak dengan orang itu dan situasi macet di pagi hari. Akhirnya aku menawarkan diri untuk mengantar orang sakit itu dengan motorku. Kemudian melajulah aku menuju rumah sakit terdekat, sehingga orang itu dapat di periksa dan segara di tindak lanjuti supaya sembuh. Kemudian datanglah pengendara mobil tadi kepadaku dan berkata “Terima kasih nak, saya minta maaf kalau tadi menyerempet motormu. Saya sangat khawatir dengan anak saya.”. Hatiku merasa tenang dapat menolong orang itu, walaupun awalnya aku merasa jengkel sekali. Setelah pergi dari rumah sakit, aku menuju lagi kesekolah dan harus menerima ceramahan guru karena terlambat sangat lama. Aku ingin menjelaskan kenapa terlambat, tapi hal itu tidak akan pernah dipikirkan oleh guru. Jadi aku memutuskan untuk mendiamkannya saja, karena aku sudah melakukan kesalahan. Tak lama kemudian aku mengikuti pelajaran dengan biasa hingga pulang sekolah.
Oh ya! Aku hampir lupa memperkenalkan diri, namaku Higo Useda Kitomo. Aku anak tunggal, dan sekarang aku berumur 16 tahun. Aku pernah punya cita-cita untuk menjadi seorang penulis, karena aku suka menulis karya tulis. Tetapi orang tuaku tidak menyetujui hal itu, karena bagi mereka penulis adalah hal yang sangat konyol. Tetapi aku tetap nekat untuk melakukannya, berbagai karya tulis aku telah aku terbitkan. Aku memiliki teman yang selalu mendukung hal-hal yang selalu aku lakukan, dia adalah Amo Monosida. Amo adalah temanku dari kecil, kami sangat akrab dan dekat. Kami selalu bersekolah di sekolah yang sama, karena itu kami selalu dekat. Ada yang bilang Amo seperti saudara kandungku, ada juga yang bilang seperti malaikat. Tapi aku tidak pernah membingungkan hal itu, karena dia tetap lah sahabat terbaikku.
                Suatu hari, disaat aku mengikuti latihan menari, aku bertemu dengan seseorang yang sangat cantik. Dia bernama Yuka Fransisca, dia bukan dari daerah kami, dia dari Negara Indonesia. Wajah yang indah dan cantik, membuatku merasa sedang melihat bidadari. Yuka adalah seorang dancer dari Negara Indonesia, dia dulu bergabung pada sebuah tim yang bernama “LMSC”. Saat latihan dia menari dengan sangat tegas dan tepat, sangat handal dalam hal menari. Namun aku juga tidak mau kalah dari Yuka, aku juga menunjukan kehebatanku dalam menari. Akhirnya aku berteman dengan dia, aku mengenalkan dia dengan Amo. Tetapi Amo sangat tidak suka dengan Yuka, aku tidak tahu ada apa dengan Amo. Tidak seperti biasanya dia seperti ini kepada orang lain. Kemudian aku bertanya dengan Amo “Apa kah kamu mengenalnya?”. Dia pun tidak mau menjawab pertanyaanku, apa boleh buat, aku juga tidak bisa memaksakannya jika Amo tidak ingin memberitahukannya.
                Hari sudah malam, Yuka menghampiri rumahku dan mengajakku pergi berjalan-jalan. Aku sangat senang dan langsung bergegas untuk pergi. Ternyata Yuka ingin bertanya tentang seorang temanku yang juga dari anggota menari tadi siang yang bernama Omne Kosino. Omne adalah seorang bangsawan dari antara orang terpandang. Aku dengan senang hati menjelaskan tentang Omne kepada Yuka, tetapi kemudian dia berkata bahwa dia menyukai Omne. Hatiku sangat sedih karena mendengar dia menyukai orang lain. Tetapi aku tetap memasang wajah senang dan mencoba merayu-rayu Yuka dengan Omne.
                Keesokan harinya, Yuka menghampiriku saat aku sedang bersama Amo. Tanpa kata Amo pun pergi dan tidak bilang mau kemana. Hari ini hari libur, Yuka mengajakku, Amo dan Omne untuk pergi kesebuah tempat bermain untuk bersenang-senang. Aku langsung mengajak Amo dan Omne untuk pergi bersama. Omne mendekati Yuka dan mengajaknya bermain berdua, sedangkan aku dan Amo hanya duduk dan melihat mereka bermain. Amo sangat kesal karena dia tidak suka dengan Yuka, Amo kemudian mengajakku pulang. Tapi aku tidak mau pulang, karena aku ingin menunggu Omne dan Yuka selesai bermain. Akhirnya Amo pulang sendiri dan meninggalkanku sendiri. Beberapa jam menjelang sore, Omne dan Yuka akhirnya sangat dekat sekali. Kemudian kami bertigapun pulang beristirahat.
                Pagi hari saat disekolah, aku bertemu Omne bersama wanita lain. Entah kenapa, aku berpikir bahwa Omne sudah memiliki pasangan. Beberapa menit kemudian Amo datang menghampiriku dan berkata “Higo! Sudah dengar kabar tentang Yuka?”
                “Tentu saja belum. Aku justru menunggunya karena ada sesuatu yang ingin aku sampaikan.” Jawabku.
                “Yuka masuk rumah sakit! Tadi aku melihat ayah dan ibunya terburu-buru mengantar Yuka, aku kira berangkat sekolah. Tapi saat aku bertanya pada pembantunya, pembantunya berkata penyakit Yuka kambuh. Ternyata Yuka mengidam penyakit kanker paru-paru.” Jawab Amo dengan muka khawatir.
                “TIDAK MUNGKIN! Kamu pasti salah lihat kan?! Kemarin Yuka sehat-sehat saja bermain bersama Omne!” jawabku dengan tegas.
                Kemudian tanpa bercakap panjang, aku dengan Amo menghampiri Omne untuk mengajaknya mengunjungi Yuka. Tetapi Omne menolak, aku langsung memarahinya. Karena Yuka kemarin bersama dia seharian, dan aku pun berpikir andai saja aku bersama dengan mereka kemarin, mungkin aku akan tahu apa yang mereka lakukan kemarin. Tanpa berlama-lama aku dan Amo langsung pergi kerumah sakit untuk menemui Yuka dan keluarganya.
                Sampainya di rumah sakit, aku tidak menyadari bahwa ternyata ayah Yuka adalah orang yang waktu itu pernah aku tolong. Saat aku bertemu ayah Yuka, dia pun menangis kencang dihadapanku. Aku pun bertanya “Bukankah anda orang yang waktu itu mengantar anak anda sakit dan menyenggol motor saya?”. Ayah Yuka pun melihat ke arahku dan tiba-tiba memeluk erat dan menangis. Aku hanya berpikir “apakah waktu itu Yuka yang aku antar kerumah sakit?”. Namun ayah Yuka mengatakan sesuatu secara pelan “Aku tak mau kehilangan anakku untuk yang kedua kalinya.”. Pada saat aku mendengar itu, aku mulai berpikir, berarti orang yang aku antar waktu itu adalah saudara Yuka dan tidak bisa diselamatkan. Padahal aku berpikir hanya sakit biasa, kemudian ibu Yuka menjelaskan. Bahwa ternyata Yuka dengan saudaranya yang bernama Yuri mengidap penyakit yang sama. Kemarin senin Yuri baru saja meninggal, maka dari itu ayah Yuka sangat sedih dan khawatir jika harus kehilangan Yuka. Disitupun aku menangis dan merangkul ayah dan ibu Yuka. Tetapi ayah dan ibu Yuka tidak kuat jika harus menunggu Yuka di rumah sakit. Akhirnya aku menawarkan diri untuk menjaga Yuka di rumah sakit, hingga Yuka sadar. Amo pun berubah derastis, dia menjadi sangat baik dan peduli. Aku tahu suatu saat nanti Amo pasti menjadi orang yang baik lagi. Aku dan Amo akhirnya menunggu Yuka di rumah sakit, ayah dan ibu Yuka pun pulang dan beraktivitas lagi seperti biasa.
                Waktu terus berjalan, tidak disadari 3 bulan lebih 17 hari berlalu. Yuka masih belum sadarkan diri, sehingga dokter kebingungan dengan penyakit Yuka. Tidak pernah ada orang yang dapat bertahan selama Yuka selama ini. Dokterpun ingin mevonis Yuka, bahwa dia mengalami stroke. Tapi aku yakin dia hanya tertidur dan tidak lama lagi dia akan bangun. Amo pun berpikir demikian, namun dia tahu dokter jauh lebih tahu dari pada aku.
                Setiap hari aku menanti Yuka untuk bangun, memandang keluar jendela melihat indahnya matahari terbenam di sore hari. Aku ingin sekali jika suatu saat nanti Yuka bangun, aku ingin mengajaknya melihat matahari terbenam. Malam hari pun tiba, tidak sengaja aku pun melihat ada bintang jatuh dilangit. Tanpa berpikir, aku pun membuat permohonan untuk kesembuhan Yuka. Aku yakin pasti Yuka dapat sembuh pada waktunya.
                Keesokan harinya Omne pun datang menjenguk Yuka, aku ingin sekali marah pada Omne. Tapi berdua di taman rumah sakit. Aku pun menerima ajakan bicaranya dengan baik. Kemudian percakapan kami pun dimulai, dan dia bercerita kenapa Yuka sampai kambuh penyakitnya. Aku pun kaget, ternyata orang yang terlihat baik seperti Omne adalah seorang perokok. Saat bermain saat itu, dia merokok di sebelah Yuka. Yuka sudah memperingati Omne, tapi Omne tidak mendengarkan Yuka. Pada  akhirnya dia tahu bahwa Yuka masuk rumah sakit karena gangguan paru-paru, dia merasa bersalah dan tidak mau bertemu dengan Yuka. Aku pun tahu perasaan Omne, kemudian aku meminta maaf padanya karena marah kepadanya.
                Setelah kami bercakap-cakap, Amo berlari dengan cepat menghampiriku dan berkata “Yuka SADAR!! HIGO!! YUKA SADAR!!”.  Aku langsung berlari kekamar pasien dan melihat Yuka tersenyum, tak berpikir aku memeluk Yuka dan menangis. Omne pun datang kepada Yuka dan meminta maaf karena merasa bersalah pada Yuka. Aku pun sangat senang kami dapat berkumpul bersama lagi saat itu, aku hampir lupa tidak memberi kabar pada ayah dan ibu Yuka. Kami pun tertawa dan bercanda bersama. Tidak ada angin, tidak ada badai, Yuka mengatakan seuatu kepadaku dengan tidak jelas. Aku meminta Yuka mengulangi kata-katanya karena tidak jelas. Wajahnya memerah dan berkata malu “Aku sayang Higo..”. Aku pun tidak dapat berkata-kata dan hanya tertawa, walaupun aku sebenarnya malu. Yuka bertanya “Apakah kamu juga sayang padaku?”, aku pun berkata “Aku sangat menyayangimu Yuka dan aku mencintaimu.”. Yuka pun sangat senang mendengarkannya, malam hari menjelang ayah dan ibu Yuka datang dan kami berpamitan untuk pulang. Sebelum pulang aku menjanjikan sesuatu pada Yuka besok aku akan menunjukan sesuatu disore hari.
                Hari berikutnya setelah pulang sekolah, aku menemui Yuka sendiri. Karena Amo dan Omne ada jam tambahan kegiatan sekolah. Sesampainya aku ke rumah sakit, aku mengajak Yuka pergi ke taman rumah sakit untuk menunjukan indahnya matahari terbenam. Waktu yang tepat untuk menunjukannya kepada Yuka, dia pun menangis terharu karena keindahan matahari yang terbenam. Karena dia tidak pernah melihat matahari terbenam, Yuka pun memelukku dan berterima kasih. Aku senang Yuka dapat tersenyum bahagia dengan apa yang aku tunjukan. Setelah menunjukannya aku kembali untuk pulang.
                Keesokan harinya sekolah diliburkan, karena semua para guru harus mengikuti pelatihan. Aku pun mengunjungi Yuka dirumah sakit dengan senang hati ingin memberikan kejutan padanya. Namun saat aku tiba di kamarnya, dia tidak ada di kamar. Aku pikir sedang diperiksa oleh dokter, ternyata saat aku bertanya pada suster. Yuka telah pergi kemarin malam, disaat aku mengantarkan dia kekamarnya untuk beristirahat. Yuka mengalami kambuh pada penyakitnya, tetapi dia tidak mengatakannya padaku. Aku tidak percaya apa yang dikatakan suster. Aku mencari Yuka di semua ruangan, tapi tidak ada hasilnya. Aku menangis dan berdoa, karena menyesal mengajaknya keluar ruangan kemarin. Ayah Yuka menghampiriku dan memelukku, supaya aku bisa bersabar dan mengikhlaskannya.
                Seminggu berlalu, disore hari selalu aku memandangi terbenamnya matahari dan berharap hari itu masih ada lebih lama lagi. Sebuah mimpi pada matahari yang terbenam, mimpi yang tidak mungkin lagi akan aku dapatkan. Hingga pada akhirnya semua itu hanya jadi sebuah kenangan dan mimpi bagiku sendiri.

The End

Komentar